fakta kehidupan di desa sriwing sidomulyo

Potret Desa Sidomulyo Bancar Kota Tuban

Diposting pada
Setiap desa di daerah-daerah terpencil masing-masing mempunyai potensi yang bisa di kembangkan, baik itu potensi alamnya maupun sumber daya manusianya. Berkat perhatian pemerintah yang memberikan dana khusus untuk perkembangan desa,  sedikit demi sedikit potensi itu mulai terlihat. Pemanfaatan dari dana tersebut antara lain untuk membangun infrastruktur desa sampai meningkatkan sumber daya manusia seperti memberantas buta huruf. Salah satu Desa berpotensi adalah Ds. Sidomulyo kecamatan bancar Kota Tuban. Di desa sidomulyo terdiri dari dua dusun yaitu dusun sriwing dan dusun karang pacar.

Potret Desa Sidomulyo Bancar Kota Tuban
Desa Sidomulyo tampak indah di antara persawahan dan pepohonan

Baca Juga : Blogger asal tuban

Jarak desa sidomulyo dengan jalan raya sekitar 5 km, sehingga untuk bisa kesana kita masih butuh perjalanan sekitar 15 menit dari pertigaan mamer. Dulu di pertigaan mamer terdapat pangkalan ojek, sekitar tahun 2007 ojek semakin sepi karena masyarakat semakin banyak yang memiliki motor sendiri. Sehingga perlahan tidak ada tukang ojek yang mangkal disini. 
Di desa sidomulyo terdapat 1 kantor balai desa yang letaknya di dusun karang pacar, terdapat dua masjid di masing-masing dusun, 1 Sekolah Dasar yang letaknya diantara kedua dusun, Taman kanak-kanak, serta Bidan. Dari tahun ketahun wajah desa sidomulyo kian membaik, penataan demi penataan terus dilakukan. Berbeda dengan 20 tahun yang lalu, pertama kali saya pindah dari kota surabaya ke dusun sriwing, saat itu saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Saya masih ingat betul bagaimana wajah desa sidomulyo 20 tahun yang lalu, jalan akses ke desa masih belum di aspal, listrik belum semua warga yang menikmati, sistem perairan di sawah yang belum tertata, bahkan setiap warga tidak ada yang memiliki WC, sehingga setiap pembuangan dilakukan di sawah, pagi hari sebelum subuh dan malam hari.

Dari segi kemajuan infrastruktur memang masih tertinggal, tetapi saya salut dengan Desa sidomulyo yang dulu, sikap tolong menolong, gotong royong, budaya serta dolanan anak-anak masih terjaga betul. Saya sangat ingat bagaimana dulu saya bermain, bagaimana saya dan teman-teman bermain di sawah, ladang, sungai, waduk serta permainan kami yang sangat tradisional. Permainan tradisional yang kami buat sendiri mendidik kami menjadi lebih mandiri, serta tidak ada satupun permainan tradisional yang dimainkan beberapa anak, sehingga dalam sekali bermain kami semua berkumpul, melatih interaksi sosial serta manajemen sosial kami. Permainan tersebut antara lain Pong, Bentik, Gejlik, Bandringan, Sodor, Unjal, Clentisan, Kekean, Layangan, Bedil-bedilan, Nawu, Mancing, Angon, Ngaret, Golek manuk, Nglangi neng kali, Bal-balan, Selelegong, Tekpo, serta ada beberapa yang saya lupa. Ini adalah bahasa permainan di desa saya, semoga kawan-kawan yang membaca paham, misal tidak paham yasudahlah, kita bahas dilain kali khusus dolanan anak-anak.hehehehe

Seiring berkembangnya jaman, pembangunan di desa semakin merata serta barang-barang elektronik mulai dinikmati masyarakat desa. Sekitar tahun 2000, jalan di desa sidomulyo mulai di aspal, ekspresi senang sangat terlihat betul. Terbukti setelah jalan selesai di aspal, mulai anak-anak sampai ibuk-ibuk keluar rumah hanya untuk jalan-jalan menikmati aspal baru. Entah itu malam hari maupun pagi hari. Jika ingat dulu rasanya lucu juga, jalan di aspal rasanya seperti jalan-jalan di mall.hehehehe. Perlahan satu dua warga ada yang mempunyai tv. Karena satu desa hanya beberapa yang punya, suasana melihat tv sangat rame, bahkan mengalahkan keramaian saat kita di bioskop. Dalam satu rumah, ada 1 tv, yang melihat bisa full bahkan sampai luar rumah, padahal itu masih tv hitam putih. Inilah potret wajah Desa Sidomulyo, masa-masa transisi sebelum akhirnya di Desa saya terbanjiri produk-produk luar hingga akhirnya budaya di desapun mulai terkikis oleh budaya luar. Semakin lama semakin banyak warga yang memiliki tv, bahkan sekarang ini setiap rumah ada tv nya. Tentu ini sangat berbeda dengan dulu, dimana warga masih sering berkumpul ,jagongan di luar rumah, melihat tv bareng-bareng . Tapi sekarang, setiap malam warga hanya sibuk dengan tv nya masing-masing, suasana yang dulu sudah tidak terlihat dan tentunya ini berdampak pada sosial antar warga.

Di dunia anak-anak/remajapun demikian, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu saat saya masih duduk di bangku SD-SMP, Seperti yang saya ceritakan di atas, kehidupan masa kecil kami benar-benar di habiskan dengan permainan tradisional serta bermain dengan alam. Permainan yang bisa mendidik serta melatih kemandirian, kreatifitas, serta manajemen sosial kami. Semenjak di Desa mulai di dimasuki barang-barang yang disebut dari dunia modern terutama gadget, aktifitas anak-anak/remaja di Desa saya juga sudah berubah. Perubahan itu mulai terlihat semenjak saya duduk di bangku SMK, Anak-anak/remaja lebih disibukkan dengan tv serta bermain Hp. Waktu lebih banyak di habiskan di dalam rumah, interaksi dengan dunia luar mulai di tinggalkan termasuk permainan tradisional yang bagi saya pribadi memiliki banyak manfaat.

Beginilah potret kehidupan di Desa saya, mungkin tak jauh berbeda dengan desa-desa lainya. Antara kemajuan desa dan potret budaya yang tak seimbang. Seolah kita dihadapkan pada dua pilihan, Desa maju dengan budaya yang semakin tertinggal atau desa yang di bilang tertinggal tetapi budaya yang tetap di pertahankan. Seharusnya kesadaran seperti ini kita miliki, agar kita tetap bisa memajukan desa dari berbagai bidang tetapi tetap bisa mempertahankan budaya yang selama ini kita miliki tanpa harus hanyut oleh perkembangan jaman dan budaya dari luar.


Artikel menarik lainnya...

5 thoughts on “Potret Desa Sidomulyo Bancar Kota Tuban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.