Sejuta Cerita Dari Surabaya Menuju Jakarta

Diposting pada

Surabaya Menuju Jakarta – Tepat pada peringatan kemerdekaan RI yang ke 72 yaitu 17-08-2017 saya berangkat menuju kota Jakarta. Perjalanan dimulai dari stasiun Pasar Turi Surabaya dan berakhir di Stasiun Senen Jakarta. Keinginan saya untuk berkunjung ke Jakarta sebenarnya sudah lama, hanya keinginan sih. Soalnya bingung juga jika ke Jakarta mau ketempatnya siapa, mau kemana. Semua serba gak jelas. Tapi namanya rejeki kali ya, akhirnya bisa juga berangkat.

Saya berangkat menuju Jakarta naik kereta Kertajaya dan ditemani 3 orang teman. Tentunya 3 orang inilah yang bisa membuat saya sampai di Jakarta. Mereka adalah Rhomy Ahmad Sudedi asal Papua, Imron Amrullah dan Moh As’ad asal Madura, serta saya sendiri asal Tuban. Hehehehe. Kebetulan si Madura banyak saudara di Jakarta, jadi bisa dibilang amanlah. Aman dari segi tempat bermalam, aman dari makanan dan aman dari lainnya. Wkwkwkwkwk, si Papua dan si Tuban hanya numpang saja, numpang ke Jakarta karena kami berdua memang belum pernah pergi ke Jakarta. Sejauh ini kami hanya berkeliling Jawa Timur, mulai wisata pantai, air terjun, sejarah, sampai mendaki gunung sudah pernah kita takhlukan.

Rencana Surabaya menuju Jakarta

Pergi ke Jakarta sudah direncanakan sejak awal agustus, tepatnya saat saya, si Papua dan mas Imron mengantarkan saudaranya dari Jakarta untuk berwisata berkeliling Jawa Timur. Menggunakan 2 unit mobil selama 6 hari 5 malam kami menemani mereka berwisata.

Tujuan pertama kali adalah Coban Rais Malang, kemudian Gunung Bromo, Ranu Kumbolo, Pantai Balekambang dan Pantai Batu Bengkung. Saat berada di villa, kami iseng-iseng ngobrolin ke Jakarta. Gak sengaja coba cek harga tiket, ternyata tiket kereta api dari Surabaya ke Jakarta kelas Ekonomi hanya 100rbuan, sontak saya kaget. Kenapa saya baru tahu kalau semurah itu, saya mengira tiket kereta paling murah ke Jakarta sekitar 300rbuan. Tahu begitu saya dari dulu udah manas-manasin ke Jakarta. Tapi yang namanya rejeki gak akan kemana, kalau sudah waktunya sampai juga di Jakarta. Lumayanlah, untuk kantong mahasiswa dan seorang anak kampung dari pelosok desa, bisa jalan-jalan ke Jakarta adalah sebuah kebahagiaan :p.

Entah sejak kapan jalan-jalan menjadi kegiatan rutin kami, yang jelas semenjak saya kuliah dan bertemu Duo Madura ditambah si Papua, hampir setiap bulan selalu ada saja rencana jalan-jalan. Padahal dari segi biaya kami ini gak kerja, hanya mengandalkan kerjaan freelance dan saya jualan jam saja, itupun juga baru-baru ini. Tapi saya sendiri juga heran, jika ada rencana jalan-jalan, uang itu selalu ada saja. Entah dari mana datangnya, yang jelas jika rencana sudah ditentukan, maka gak ada alasan untuk tidak berangkat.

Sejuta cerita dari surabaya menuju jakarta

Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, ada banyak sekali cerita yang mengisi selama perjalanan. Yang jelas, ini pertama kali saya naik kereta. Jadi ya begitulah, siap-siap jadi bahan gojlokan. Tapi bodoh amat, yang penting ke Jakarta tooo. Bukan bermaksud apa sih, sebenarnya bagi saya sama saja antara Jakarta dan Surabaya, yang membuat berbeda adalah jarang-jarang kita jalan-jalan ke Kota. Biasanya kan ke alam mulu, bahkan pertama sampai di Jakarta, kulit kita sempat kering pecah-pecah. “Ahhh katrok loe”, ucap si Papua. “Macam orang betul saja, sama-sama baru menginjakkan kaki di Jakarta udah belagu”, apaan sih loe, ucap saya ala Jakarta”. Wkwkwkwkakak

Ulah Pace Papua…

Kembali ke cerita perjalanan menuju Jakarta, di dalam kereta saya dibuat heran dengan petugas kereta api yang berkeliling menyewakan bantal. Si Papua langsung merasa aneh, katanya bagaimana bisa tempat duduk yang udah sempit begini ada persewaan bantal, macam tempat duduknya kayak kasur saja. Emang bener sih, saya sendiri juga gak habis pikir. Tanpa bantal saja kami berempat kesulitan mengatur duduk dan posisi kaki. Apalagi di tambah bantal. Posisi kami berempat berhadapan, sedangkan posisi kaki saling serong.

Tak sampai 1 jam, posisi kaki selalu berubah. Gak kebayang kan bagaimana rasannya kaki dan pantat selama perjalanan hampir 12 jam. Selama didalam kereta ada saja ulah yang dilakukan si Papua. Bayangin saja, disaat semua penumpang duduk manis, bahkan ada yang masih tidur. Eh dia malah jalan-jalan di dalam kereta, dari gerbong satu pindah ke gerbong lain, kelihatan banget kan katroknya. Hahahaha, sama-sama katroknya dengan saya. Tak lama sayapun nyusul, ternyata dia lagi asik lihat sambungan antar gerbong. Akhirnya saya pun ikut nimbrung. “Lihat su, sambungannya loh goyang-goyang naik turun, ngeri eh?” ucap si Papua. “Iya ded, sangar yo” ucap saya cuma formalitas. Hahahaha

Ulah si Papua tak berhenti sampai disitu, masak iya habis ke toilet saja curhat. Katanya sih pengen B*B, karena keretanya goyang-goyang. Eh dia bilang cuma B*K, katanya kalau B*B takut kemana-mana. Emangnya si anu itu ular hidup jadi bisa kemana-mana. Gila tuh si Papua. Hahahaha. Akhirnya di tahan tuh ularnya, biar gak kemana-mana, setelah sampai di Stasiun Senen, baru deh dilepas di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di seberang stasiun Senen.

Diam-diam memperhatikan…

Itu mah baru ulah si Papua, belum lagi si Duo Madura. Meskipun duduknya anteng-anteng saja, tapi ulahnya juga gak kalah gokil. Sejak awal naik, si Moh As’ad diem saja. Gak banyak omong, tapi gak lama kepalanya di tutup pake shal warna hitam, saya perhatikan saja sama si Papua, ternyata jari-jarinya bergerak gerak seperti orang dzikir. Kemungkinan besar sih dzikir, soalnya dia ini kan ahli ilmu GITUAN. Terserah yang nafsirin sih, gituan itu apaan. Tapi dilihat dari kelakuannya, jelaslah gituan itu apaan. Hehehehe. “Ded, lihat tangannya mas asad” ucapku. “wiiiiiiihhhhhhhhh, dia sedang dzikrullah”, kata si Dedi. Akhirnya kita coba tes, dia ini matanya merem apa melek, soalnya kan tertutup shal. Kita kepalkan tangan dan ejekin pake muka gila tepat didepan kepalanya. TOENG(jorokin kepala kita), eh ternyata melek dan diem-diem merhatiin kita. Wakakakakakakakakakakakak, pecah deh ketawa kita. Gak di kos, gak ditempat umum. Kelakuan dan ketawa sama saja, gak bisa di kontrol.

Dia juga bisa konyol…

Nah, kali ini cerita dari si biangkerok jalan-jalan. Mas Imroun,  Hehehehe. Namanya saja biangkerok, selama perjalanan yang dibicarain hanya rencana jalan-jalan. Masak iya, ke Jakarta saja masih otewe tapi udah planning ke Lombok, ke … … … …  Sampai lupa saya kemana aja. Pokoknya begitulah beliau, saya sih senang-senang saja di ajakin jalan-jalan. Yang penting ada kewudnya.

Ternyata dari sosok nya yang penuh wibawa bisa juga bertingkah konyol. Ini menurut saya sih. Tepatnya sekitar jm 5 pagi, saat kita bangun tidur, saya dan si Papua bergegas dari tempat duduk. Biasalah, jalan-jalan pagi di dalam gerbong. Hahahaha. Setelah kembali ke tempat duduk, eh ternyata. Tempat duduk saya di buat tiduran. Posisinya itu loh yang menurut saya lucu, kepala dan kaki berada di tempat duduk berbeda. Jadi badannya itu ditengah tanpa penyangga. Macam orang atraksi gitulah. Anehnya, dengan posisi seperti itu masih bisa tidur. Mas moh asad yang baru bangun saya suruh menengok, eh sambil sayup-sayup mata mengantuk ikut ketawa. Hiks hiks hiks.

Itulah sedikit cerita dari saya, sebenarnya masih banyak keseruannya. Yang jelas terimakasih untuk semuannya, terutama yang sudah menerima kami di Jakarta.

Baca Cerita Selanjutnya :


Artikel menarik lainnya...

8 thoughts on “Sejuta Cerita Dari Surabaya Menuju Jakarta

  1. Aku ingat tulisan andrea hirata, bermimpilah maka Tuhan akan menjadikan nyata. Seperti keinganan ke Jakarta.
    Dulu saya ingin bs ke Jakarta tapi setelah menikah sudah tidak

  2. Ternyata tiket ekonomi murah ya. Dulu ketika ikut suami dinas di Jakarta, naik kereta turunnya di Bojonegoro.
    Sudah lama nih nggak ke Jakarta lagi. Padahal keluarga banyak yang merantau kesana. Jadi silaturahimnya via telepon saja.

  3. Iya mabk murah, tapi kalau untuk keluarga ya jangan lah. Kasihan anak-anak terlalu lama di kereta dan berdesak-desakan. Mending kalau untuk keluarga beli yang kelas bisnis aja. Demi kenyamanan keluarga. Hehehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *